ILMU NUTRISI TERNAK RUMINANSIA
Kata Pengantar
Puji
dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang metabolisme
mineral ini dengan baik. Salawat beriring salam kepada junjungan kita Nabi
Besar Muhammad Saw yang telah menghantarkan kita dari zaman jahiliyah menuju
alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
Diharapkan
makalah ilmu nutrisi ternak ruminansia ini dapat menambah dan memperbanyak
pengetahuan kita tentang bagaimana metabolisme mineral dalam tubuh ternak
ruminansia.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis
menyadari pengetahuan dan pengalaman penulis masih sangat terbatas. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak
agar makalah ini lebih baik dan bermanfaaat.
Padang,
1 Maret 2013
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Mineral merupakan
elemen-elemen atau unsur-unsur kimia selain dari karbon,
hidrogen, oksigen dan nitrogen yang
jumlahnya mencapai 95% dari berat badan. Jumlah seluruh mineral dalam tubuh
hanya sebesar 4% (Piliang, 2002). Semua mineral esensial dianggap ada di dalam
tubuh hewan (Widodo, 2002). Pembagian mineral ke dalam kelompok mineral makro
dan mikro tergantung kepada jumlah mineral tersebut di dalam tubuh hewan,
kandungan mineral yang lebih dari 50mg/kg termasuk kedalam mineral makro,
sedangkan di bawah jumlah tersebut termasuk mineral mikro (Darmono, 1995).
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian mineral dan kebutuhan
mineral bagi ternak ?
2.
Bagaimana metabolisme dan absorbsi
mineral pada ternak ruminansia ?
3.
Apa saja fungsi mineral ?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui berapa kebutuhan
mineral dan fungsi mineral bagi tubuh ternak.
2.
Untuk mengetahui bagaimana
metabolisme mineral bagi ternak ruminasia.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mineral
Mineral merupakan elemen-elemen atau unsur-unsur kimia
selain dari karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen yang jumlahnya mencapai 95%
dari berat badan. Jumlah seluruh mineral dalam tubuh hanya sebesar 4% (Piliang,
2002). Semua mineral esensial dianggap ada di dalam tubuh hewan (Widodo, 2002).
Pembagian mineral ke dalam kelompok mineral makro dan mikro tergantung kepada
jumlah mineral tersebut di dalam tubuh hewan, kandungan mineral yang lebih dari
50 mg/kg termasuk kedalam mineral makro, sedangkan di bawah jumlah tersebut
termasuk mineral mikro (Darmono, 1995).
Mineral diperlukan oleh hewan dalam jumlah yang cukup.
Mineral berfungsi sebagai pengganti zat-zat mineral yang hilang, untuk
pembentukan jaringan-jaringan pada tulang, urat dan sebagainya serta untuk
berproduksi. Terdapat 22 jenis mineral esensial yaitu tujuh mineral makro yang
mencakup Kalsium (Ca), Natrium (Na), Kalium (K), Fosfor (P), Magnesium (Mg),
Klor (Cl), Sulfur (S) dan lima belas mineral mikro dan mineral unsur jarang
(trace mineral) yang mencakup Besi (Fe), Yodium (I), Seng (Zn), Kobalt (Co),
Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibdenum (Mo), Selenium (Se), Kromium (Cr),
Vanadium (V), Flourin (F), Silikon (Si), Nikel (Ni), dan Arsen (As). Alumunium
(Al), Timbal (Pb), Rubidium (Ru) hanya bersifat menguntungkan dalam beberapa
kondisi (Underwood dan Suttle, 2001).
2.2 Kebutuhan Mineral
Mineral dibutuhkan oleh hewan dalam jumlah yang cukup. Bagi ternak
ruminansia, mineral selain digunakan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri juga
digunakan untuk mendukung dan memasok kebutuhan mikroba rumen. Pada ternak
ruminansia, selama siklus laktasi terdapat perbedaan antara beberapa periode
dalam metabolisme mineral. Pada awal laktasi terjadi pengurasan mineral dari
dalam tubuh, hal ini disebabkan mineral diperlukan untuk sintesis air susu.
Intensitas pengurasan akan semakin berkurang dengan menurunnya produksi
susu sehingga terdapat periode penimbunan mineral dalam tubuh (Toharmat dan
Sutardi, 1985). Unsur mineral makro seperti Ca, P, Mg, Na dan K berperan
penting dalam aktivitas fisiologis dan metabolisme tubuh, sedangkan unsur
mineral mikro seperti Fe, Cu, Zn, Mn, dan Co diperlukan dalam sistem enzim
(McDowell, 1992).
Mineral mikro dibutuhkan hanya dalam jumlah kecil, apabila termakan dalam
jumlah besar dapat bersifat racun (Widodo, 2002). Mineral yang dapat
menyebabkan keracunan mencakup mineral esensial seperti Cu, Zn, Se, dan mineral
non esensial seperti Hg, Pb, dan As (Darmono, 1995).
Beberapa mineral berperan penting dalam meningkatkan
aktivitas mikroba dalam rumen. Mineral yang mempengaruhi proses fermentasi
rumen adalah S, Zn, Se, Co dan Na (Arora, 1989). Mineral di dalam rumen
dibutuhkan oleh mikroba untuk pembentukan vitamin B dan protein. Defisiensi
mineral akan mempengaruhi hasil dan proses fermentasi pakan dalam rumen (Arora,
1989)
2.3 Suplementasi Mineral
Mineral sangat penting untuk kelangsungan hidup ternak. Hampir semua
mineral ditemukan dalam jaringan ternak dan mempunyai fungsi yang sangat
penting dalam proses metabolisme ternak. Suplementasi berbagai bahan pada pakan
ternak menghasilkan bobot ternak yang meningkat. Suplemen mineral dianjurkan
untuk memenuhi beberapa prinsip, antara lain :
1.
campuran akhir minimal mengandung 6- 8% total
P
2.
rasio Ca : P tidak
melampaui 2 : 1
3.
dapat menyuplai 50%
elemen mikro Co, Cu, I, Mn dan Zn
4.
bentuk mineral yang
digunakan adalah yang mudah digunakan dan dihindarkan dari kontaminasi dengan
mineral-mineral beracun (misalnya sumber P yang terkontaminasi dengan F)
5.
suplemen tersebut
hendaknya cukup palatable untuk menjamin tingkat konsumsi yang baik
6.
perlu diperhatikan
ketepatan menimbang, pencampuran yang homogen dan lain sebagainya
7.
besar partikel hendaknya
lebih kecil dan seragam sehingga pencampuran dapat dilakukan secara homogen
8.
perkiraan kebutuhan yang
cukup baik dan akurat dalam hal kebutuhan
9.
daya guna setiap elemen
yang digunakan, dan
10.
tingkat konsumsi hewan (Parakkasi, 1999).
Mineral mempunyai peranan penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba
rumen. Zn dapat mempercepat sintesa protein oleh mikroba melalui pengaktifan
enzim-enzim mikroba. Suplementasi Zn dapat meningkatkan ketahanan sapi perah
terhadap mastitis. Mineral Co berperan dalam sintesis vitamin B12. Mineral Cu
dan Co bersama-sama dapat memperbaiki daya cerna serat kasar. Sulfur adalah
salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses fermentasi dalam rumen
(Arora, 1989).
Kalsium (Ca)
Kalsium (Ca) merupakan elemen mineral yang paling banyak dibutuhkan oleh tubuh
ternak (McDonald et al., 2002). Ca memiliki peranan penting sebagai penyusuntulang
dan gigi. Sekitar 99 % dari total tubuh terdiri dari Ca. Selain itu Ca berperan sebagai penyusun sel dan
jaringan (McDonald et al., 2002). Menurut Piliang (2002), fungsi Ca yang tidak
kalah pentingnya adalah sebagai penyalur rangsangan-rangsangan syaraf dari satu
sel ke sel lain.
Jika ransum ternak pada masa pertumbuhan defisien Ca maka pembentukan
tulang menjadi kurang sempurna dan akan mengakibatkan gejala penyakit tulang.
Gejala penyakit tulang diantaranya adalah wajah keriput, pembesaran tulang
sendi, tulang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan pada ransum
ternak dewasa yang mengalami defisien Ca akan menyebabkan osteomalacia
(Piliang, 2002). Ca air susu cukup stabil walaupun defisiensi Ca, namun
produksi susu akan turun. Ransum yang memiliki kadar Ca yang rendah akan
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin (Foley et al., 1972).
Beberapa faktor makanan dapat membantu meningkatkan absorpsi Ca, sedangkan
beberapa faktor lain dapat menurunkan absorpsi Ca oleh usus halus. Asam fitat
dan asam oksalat dapat menurukan absorpsi mineral Ca dengan jalan mengikat Ca
dan membentuk garam Ca yang tidak larut dalam lumen usus halus (Piliang, 2002).
Fosfor (P)
Fosfor (P) merupakan mineral kedua terbanyak dalam tubuh dengan distribusi dalam
jaringan yang menyerupai distribusi Ca. Fosfor memegang peranan penting dalam
proses mineralisasi tulang (Piliang, 2002). McDonald et al. (2002) menyatakan P
mempunyai fungsi sangat penting bagi tubuh ternak diantara elemen mineral
lainnya. Fosfor umumnya ditemukan dalam bentuk phospholipid, asam nukleat dan
phosphoprotein.
Kandungan P dalam tubuh ternak lebih
rendah daripada kandungan Ca. Gejala defisiensi P yang parah dapat menyebabkan
persendian kaku dan otot menjadi lembek. Ransum yang rendah kandungan P-nya
dapat menurunkan kesuburan (produktivitas), indung telur tidak berfungsi
normal, depresi dan estrus tidak teratur. Pada ternak ruminansia mineral P yang
dikonsumsi, sekitar 70% akan diserap, kemudian menuju plasma darah dan 30% akan
keluar melalui feses.
Fosfor yang berasal dari makanan
diabsorpsi tubuh dalam bentuk ion fosfat yang larut (PO4-). Gabungan mineral P
dan mineral Fe dan Mg akan menurunkan absorpsi P (Piliang, 2002). Asam fitat
yang mengandung P ditemukan dalam biji-bijian dapat mengikat Ca untuk membentuk
fitat. Fitat yang terbentuk tidak dapat larut sehingga menghambat absorpsi Ca
dan P. Dari seluruh jumlah P yang terdapat dalam makanan sekitar 30% melewati
saluran pencernaan tanpa diabsorpsi. Seperti halnya dengan kalsium, maka
vitamin D dapat meningkatkan absorpsi P dari usus halus (Piliang, 2002).
Magnesium (Mg)
Tubuh hewan dewasa mengandung 0,05% Mg. Retensi dan absorpsi Mg pada sapi
perah erat kaitannya dengan kebutuhannya. Enam puluh persen Mg dalam tubuh
hewan terkonsentrasi di tulang sebagai bagian dari mineral yang mengkristal dan
permukaan kristal terhidrasi (Linder, 1992). Menurut McDonald et al. (2002), Mg
berperan dalam membantu aktivitas enzim seperti thiamin phyrofosfat sebagai
kofaktor. Ketersediaan Mg dalam ransum harus selalu tersedia. Perubahan
konsentrasi Mg dari keadaan normal selama 2-18 hari dapat menyebabkan
hipomagnesemia (Toharmat dan Sutardi, 1985).
Sekitar 30-50% Mg dari rata-rata konsumsi
harian ternak akan diserap di usus halus. Penyerapan ini dipengaruhi oleh
protein, laktosa, vitamin D, hormon pertumbuhan dan antibiotik (Ensminger et
al., 1990). Magnesium sangat penting peranannya dalam metabolisme karbohidrat
dan lemak. Defisiensi Mg dapat meningkatkan iritabilitas urat daging dan
apabila iritabilitas tersebut parah akan menyebabkan tetany (Linder, 1992).
Defisiensi Mg pada sapi laktasi dapat menyebabkan hypomagnesemic tetany atau
grass tetany. Keadaan ini disebabkan tidak cukupnya Mg dalam cairan
ekstracellular, yaitu plasma dan cairan interstitial (National Research
Council, 1989).
Kebutuhan Mg untuk hidup pokok adalah 2-2,5 gram dan untuk produksi susu adalah
0,12 gram per milligram susu. Ransum yang mengandung 0,25% Mg cukup untuk sapi
perah yang berproduksi tinggi (National Research Council, 1989).
Sulfur (S)
Sulfur (S) merupakan komponen penting protein pada semua jaringan tubuh. Pada
ruminansia 0,15% komponen jaringan tubuh terdiri atas unsur S, sedangkan pada
air susu sebesar 0,03%. Pada hewan ruminansia terjadi sintesis asam-asam amino
yang mengandung mineral S dengan vitamin B oleh mikroba di dalam rumen.
Terdapat dua macam mekanisme metabolisme mineral S pada hewan ruminansia, yaitu
mekanisme yang menyerupai mekanisme mineral S pada hewan-hewan monogastrik dan
mekanisme yang dihubungkan dengan aktivitas mikroorganisme dalam rumen
(Piliang, 2002).
Kandungan mineral S pada tanaman hijauan dapat berkisar dari 0,04% sampai
melebihi 0,3%. Bahan makanan yang mengandung protein tinggi akan mengandung
kadar mineral S yang tinggi pula (Piliang, 2002). Kadar S dalam ransum sebesar
0,20% diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sapi perah laktasi.
Hewan-hewan yang diberi ransum defisien dalam mineral sulfur akan menunjukkan
penyakit anorexia, penurunan bobot badan, penurunan produksi susu, kekurusan,
kusut, lemah dan akhirnya mati. Tanda-tanda tersebut berhubungan erat dengan
menurunnya fungsi rumen dan fungsi sistem peredaran darah (McDowell, 1992).
Mangan (Mn)
Mangan (Mn) dibutuhkan dalam tubuh ternak dengan jumlah
yang sangat sedikit. Kebutuhan mangan dalam tubuh ternak hanya berkisar antara
0,20-0,60 mg/kg sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan mineral mikro
lainnya seperti besi (Fe) yaitu 20-80 mg/kg dan zeng (Zn) 10-50 mg/kg
(Anggorodi, 1994). Menurut Rojas et al., (1965) ternak betina dewasa mempunyai
kebutuhan Mn yang lebih tinggi dibanding dengan sapi yang digemukkan karena
dibutuhkan untuk proses reproduksi dan perkembangan fetus.
Mn diperlukan untuk aktivator enzim, dan trasfer pophat dan
decarboxilase, mencegah perosis, dan pertumbuhan tulang. Sumber Mn adalah
hijauan dan bahan konsentrat seperti jagung. Didalam tubuh ternak Mn dijumpai
pada hati, ginjal,pankreas, dan pituatary, dan sedikit pada jantung, urat
daging dan tulang. Pada ruminansia Mn berfungsi sebagai sintesa karbohidrat,
mucoplyssacharide, sistem enzim, misalnya pyruvate carboxylase, arginine synthetase
dll. Kebutuhan Mn pada ruminansia belum banyak diketahui tetapi kekurangan Mn
menyebabkan gejala klinis bentuk tulang dan postur yang abnormal. Kelainan
bentuk tulang antara lain kaki bagian bawah, pembengkakan sendi, humerus yang
relatif pendek, dan tulang yang relatif rapuh.
Defisiensi Mn juga dapat menggagu proses reproduksi ternak
jantan dan betina. Pada ternak jantan menyebabkan, gangguan spermatogenesis,
degenerasi testis, dan epididimus, dan berkurangnya hormon kelamin yang
menyebabkan sterilitas. Pada ternak betina dapat terlihat ertrus yang tidak
menentu (tidak ada), dan tidak terjadi konsepsi (pembuahan) dan kalaupun
terjadi pembuahan dapat menyebabkan keguguran. Di daerah tropis yang banyak
terdapat gunung berapi. Biasanya jarang terjadi kasus kekurangan Mn. Hal ini
disebabkan Mn dalam hijauan dan pakan konsentrat sudah cukup untuk kebutuhan
ternak. Sumber Mn adalah hijauan, konsentrat dan premix mineral buatan pabrik
(Nugroho, 2008).
Zink (Zn)
Deposisi dan Fungsi Mineral Zn
Jumlah
Zn dalam tubuh adalah 3 mg persen. Jumlah terbanyak terdapat dalam jarigan epidermal
(kulit, rambut, bulu wol) dan juga terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit
dalam tulang, otot, hati, organ kelamin dan darah. Pada darah 75% dari Zn
ditemukan pada sel darah merah, 22% dalam serum darah, dan sisanya 3% dalam sel
darah putih (Lioyd et al., 1978). Juga terdapat dalam enzim-enzim carbonic
anhidrase, uricase, phospatase dan hormon isulin. Carbonic anhidrase terdapat
dalam sel darah merah, mempunyai peranan penting dalam mengeluarkan CO2 dari
tubuh dan mengandung 0,3% Zn. Zn juga terdapat dalam susu dan juga kolostrum
dalam jumlah yang lebih besar.
Fungsi
Zn esensial sebagai komponen aktivator : (1) pada beberapa enzim diantaranya
kaboksi peptidase, karbonat anhidrase, laktat dehidrogenase, DNA dan RNA
polimerase (Tilman et al., 1991); (2) pada beberapa hormon diantaranya insulin
dan glukagon; (3) bertanggungjawab pada sintesis asam nukleat (DNA dan RNA),
dan sintesis protein (McDonald et al.,1988 ; Lieberman dan Bruning, 1990) serta
metabolisme karbohidrat (Church dan Pond, 1982).
Fungsi Zn yang tak kalah pentingnya menurut
Linder (1992) adalah biosintes heme, keseimbangan asam dan basa dan metabolisme
vitamin A. Selain itu, lebih dari 100 jenis metaloenzim mengikat Zn, termasuk
enzim nicotinamid adenine dinucleotid dehydrogenase (NADH), RNA dan DNA
polymerase, alkalin fosfatase, superoksid dismutase, dan carbonic anhidrase
(Hougland et al., 2005). Aktivasi Zn yang berhubungan langsung terhadap
penampilan ternak salah satu diantaranya adalah karboksi peptidase dan sintesa
asam nukleat (Church and Pond, 1982). Ini berarti produk-produk metabolisme
tersebut dapat dimanfaatkan oleh hewan inang baik secara fungsional maupun
struktural terutama dalam pertumbuhan.
Dari
segi fisiologis, Zn berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, antioksidan,
perkembangan seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta
nafsu makan (Solomon, 1993). Dari segi biokimia, Zn sebagai komponen dari 200
macam enzim berperan dalam pembentukan dan konformasi polisome, sebagai
stabilisasi membran sel, sebagai ion-bebas ultra-seluler, dan berperan dalam
jalur metabolisme tubuh (Soegih, 1992). Peranan terpenting Zn bagi makhluk
hidup adalah untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, sebab Zn berperan pada
sintesis dan degradasi karbohidrat, lemak, protein, asam nukleat, dan
pembentukan embrio.
Dalam
hal ini, Zn dibutuhkan untuk proses percepatan pertumbuhan, menstabilkan
struktur membran sel dan mengaktifkan hormon pertumbuhan. Zn juga berperan
dalam sistem kekebalan tubuh dan merupakan mediator potensial pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Pada defisiensi Zn ditemukan limfopeni, menurunnya
konsentrasi dan fungsi limfosit T dan B (Tjokronegoro, 1992). Selain itu, Zn
juga berperan dalam berbagai fungsi organ. Misalnya, keutuhan penglihatan yang
merupakan interaksi metabolisme antara Zn dan vitamin A.
Defisiensi Mineral Zn Pada Ternak Ruminansia
Seperti
unsur nutrisi, mineral berperan penting dalam proses fisiologis ternak, baik
untuk pertumbuhan maupun pemeliharaan kesehatan. Kekurangan salah satu atau
lebih mineral tersebut akan mengganggu sistem fisiologis ternak dan menyebabkan
penyakit yang disebut defisiensi mineral. Defisiensi mineral pada umumnya dapat
terjadi bila asupan bahan makanan sumber mineral kurang, komposisi air dan
tanah kurang mineral tertentu, atau terdapat gangguan penyerapan dan
metabolisme dalam tubuh.
Pada
tanah berpasir yang sangat miskin unsur mineral, kondisi tanah yang dipupuk,
tidak dipupuk, dan ditanami terus-menerus akan mempengaruhi kandungan mineral
tanaman yang tumbuh di tanah tersebut (Soepardi 1982). Tingkat kemasaman (pH)
tanah juga mempengaruhi kandungan hara. Pada tanah alkalis dengan pH 8 akan
terjadi defisiensi Fe, Mn, dan Zn, sebaliknya pada pH 5 terjadi defisiensi Cu
(Gartenberg et al., 1990).
Hadirnya
mineral lain yang berinteraksi dengan mineral esensial juga mengakibatkan
berkurangnya ketersediaan mineral esensial. Dilaporkan pula bila tanah tempat
hijauan tersebut tumbuh miskin unsur mineral maka ternak yang mengkonsumsi
hijauan tersebut akan menunjukkan gejala penyakit defisiensi mineral. Gejala
umum timbul setelah kekurangan dalam jangka panjang. Hal ini bisa diatasi
dengan memperhatikan ketersediaan bahan makanan sumber atau dengan cara suplementasi.
Difesiensi mineral Zn akibat dari rendahnya kandungannya pada pakan sering diklasifikasikan sebagai difesiensi berat, menengah dan ringan.
Difesiensi mineral Zn akibat dari rendahnya kandungannya pada pakan sering diklasifikasikan sebagai difesiensi berat, menengah dan ringan.
Defisiensi berat dapat dilihat dari gejala
klinis yang ditimbulkannya seperti dermatitis, anorexia, dan parakeratosis;
defisiensi menengah dapat dilihat pada gejala sub klinis yang ditimbulkannya
seperti menurunnya Zn plasma dan respon kekebalan tubuh ternak; sedangkan
defisiensi ringan biasanya terjadi bila dihubungkan dengan cekaman. Defisiensi
Zn juga dapat menyebabkan terjadinya alopecia, parakeratosis, dan kegagalan
reproduksi.
Tilman
et al. (1991) menyatakan bahwa defisiensi Zn pada hewan menyebabkan pertumbuhan
terlambat akibat kurang dapat mempergunakan protein dan mineral S. Lebih lajut
Parrakasi (1998) menambahkan bahwa defisiensi Zn juga dapat menurunkan
penampilan, pembengkakan kaki dan dermatitis terutama pada leher, kepala, dan
kaki, juga terjadi gangguan penglihatan, penurunan fungsi rumen dan sulitnya
penyembuhan luka.
McDowel
et al.(1983) menemukan bahwa pada ternak ruminansia (sapi potong ataupun sapi
perah) yang diberi hijauan pakan ternak mengandung Zn (18 - 23 mg/kg) mengalami
defisiensi Zn, berarti hijauan yang mengandung 23 ppm Zn availibilitas Zn-nya
rendah, sehingga disarankan kebutuhan sapi potong dan sapi perah akan Zn adalah
masing-masing 30 dan 40 mg/kg ransum. Untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh
ternak disarankan suplementasi Zn ditingkatkan sampai 50 mg/kg ransum
(Lieberman dan Burning, 1990).
Availibilitas Zn dalam pakan yang rendah, juga
disebabkan oleh kandungan mineral lain yang bersifat antagonis tersebut tinggi
seperti Ca, P dan Cu (Tillman et al., 1991). Menurut Linder (1992), tingkat
penyerapan Zn sedikit banyak berkompetisi dengan ion-ion metal transisi seperti
F++ / F+++ atau Cu++, karenanya perlu dipertimbangkan bila menggunakannya
sebagai suplemen.
Suplementasi Mineral Zn Dalam Pakan
Sebagai
salah satu komponen dalam jaringan tubuh, Zn termasuk zat gizi mikro yang
mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal, meski dalam jumlah
yang sangat kecil. Dengan telah berkembangnya bioteknologi maka mineral dalam
bentuk organik sudah dapat diproduksi terutama mineral Zn sebagai mineral
proteinat. Mineral proteinat diproduksi dengan cara “chelating” garam metal
terlarut dengan asam amino atau hidrolisa protein.
Suplementasi
Zn dapat dilakukan dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk senyawa an-organik
seperti seng-sulfat maupun organik, seperti seng-asetat. Dintara dua senyawa Zn
tersebut ada kecenderungan Zn organik bioavailibilitasnya lebih tinggi (Rojas
et al., 1995). Suplementasi mineral seng-asetat dalam ransum dapat mengaktifkan
beberapa enzim dan hormon yang berhubungan dengan metabolisme dan fungsi
reproduksi ternak pada fase pertumbuhan.
Suplementasi
Zn perlu diperhatikan karena penyerapan dalam tubuh ternak banyak berkompetisi
dengan ion-ion metal transisi seperti Fe++/Fe+++ dan Cu++ (Linder, 1992). Lebih
lanjut dijelaskan bahwa setelah penyerapan dan pemindahan ke plasma darah, jika
dalam ekuilibrium Zn terikat dalam albumin, a2 globulin dan anti protease,
serta jika dalam keadaan berlebihan akan terakumulasi pada ikatan
metalotionein. Sehubungan degan hal itu, Tilman et al. (1991) menyatakan bahwa
untuk meningkatkan efisiesi penggunaan Zn sebaiknya perlu memperhatikan
mineral-mineral lainnya terutama yang bersifat antagonis seperti Cu dan P.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kelebiha Ca dalam rasum perlu diperhatikan,
karena akan dapat berpengaruh pada penyerapan Zn.
Pengaruh Suplementasi Mineral Zn Terhadap Produktivitas Ternak Ruminasia
Keberadaan
Zn sangat penting dalam memenuhi kebutuhan mikro mineral dalam konsentrat,
karena pakan yang ada di Indonesia tergolong marginal sampai defisien (Little,
1986). Demikian juga untuk pakan di daerah Bali ada indikasi kandungan Zn, baik
pada hijauan ataupun pada konsentrat sangat marginal. Hal ini sejalan dengan
hasil penelitian Subadiyasa (1988) bahwa sekitar 34% tanah sawah di Bali
tergolong defisien Zn.
Suplementasi
Zn dalam ransum baik dalam senyawa organik maupun an-organik adalah untuk
mengaktivasi beberapa hormon dan enzim yang berhubungan dengan metabolisme dan
fungsi reproduksi ternak. Hasil dari penelitian Putra (1999), menyatakan bahwa
hasil kecernaan yang semakin tinggi adalah pada ransum yang disuplementasi
dengan seng-asetat, yang berarti kehadiran Zn ++ dapat memacu aktivitas DNA dan
RNA polimerase. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kondisi fisiologis ini dapat
menciptakan keseimbangan neurohormonal, sehingga aktivitas enzim, baik yang
dihasilkan mikroba rumen ataupun hewan inang meningkat sesuai dengan fungsi
fisiologis masing-masing, yang menyebabkan kecernaan nutrien pada rasum akan
semakin meningkat pula.
Kehadiran
Zn++ pada seng-asetat akan meningkatkan penggunaan energi (Linder, 1992),
terutama hidrolisis, absorbsi, dan penggunaan Zn++ aktivator enzim-enzim
pencernaan. Salah satu enzim pencernaan yang dapat diaktivasi adalah karboksi
peptidase (Annenkov, 1974; McDowell et al., 1983), sehingga kehadiran enzim ini
dapat membantu metabolisme karbohidrat dan protein.
Kecernaan
nutrien pakan secara in vivo pada ternak ruminansia ditentukan oleh kandungan
serat kasar pakan (faktor eksternal) dan aktivitas mikroba (faktor internal),
terutama bakteri dan interaksi dari kedua faktor tersebut. Menurut Arora
(1995), mineral Zn memiliki peran penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba
rumen. Suplementasi Zn dapat mempercepat sintesa protein oleh mikroba dengan
melalui pengaktifan enzim-enzim mikroba. Zn diabsorbsi melalui permukaan mukosa
jaringan rumen.
Pada konsentrasi rendah (5-10μg/ml), Zn
menstimulir pertumbuhan ciliata rumen. Selain itu Zn juga dapat langsung masuk
ke dalam inti sel bakteri rumen dan memacu pertumbuhannya terutama bifido
bakterium (Ogimoto dan Omai, 1981). Hal ini dibuktikan dengan suplementasi 50
mg/kg seng-asetat dalam ransum memberi respon positif pada sapi Bali bunting
pertama (premifara) diantaranya populasi bakteri rumen 12,8 vs 4,95x108 kol/ml
yang secara simultan meningkatkan produksi asam propionat (34,2 vs 26,9 nM);
dan bobot lahir pedet (20 vs 18 kg) dibandingkan tanpa suplementasi Zn (Putra,
1999). Dalam penelitian yang sama suplementasi Zn dapat meningkatkan kecernaan
bahan kering 70,52% vs 63,31%, energi 67,88% vs 63,525%, lemak 79,895 vs 43,53%
dan protein 78,62% vs 67,55% (Sukarini, 2000). Selain itu suplementasi mineral
Zn pada konsentrat juga dapat meningkatkan produksi susu sapi Bali hampir 2
kali lipat (126,5%) yaitu 2,08 vs 0,9 kg/ekor/hari dibandingkan ransum
konvensional (Sukarini et al., 2000).
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mineral
merupakan elemen-elemen atau unsur-unsur kimia selain dari karbon, hidrogen,
oksigen dan nitrogen yang jumlahnya mencapai 95% dari berat badan. Jumlah
seluruh mineral dalam tubuh hanya sebesar 4% (Piliang, 2002). Semua mineral
esensial dianggap ada di dalam tubuh hewan (Widodo, 2002).
Intensitas pengurasan akan semakin berkurang dengan menurunnya produksi
susu sehingga terdapat periode penimbunan mineral dalam tubuh (Toharmat dan
Sutardi, 1985). Unsur mineral makro seperti Ca, P, Mg, Na dan K berperan
penting dalam aktivitas fisiologis dan metabolisme tubuh, sedangkan unsur
mineral mikro seperti Fe, Cu, Zn, Mn, dan Co diperlukan dalam sistem enzim
(McDowell, 1992).
Beberapa mineral berperan penting dalam meningkatkan
aktivitas mikroba dalam rumen. Mineral yang mempengaruhi proses fermentasi
rumen adalah S, Zn, Se, Co dan Na (Arora, 1989). Mineral di dalam rumen
dibutuhkan oleh mikroba untuk pembentukan vitamin B dan protein. Defisiensi
mineral akan mempengaruhi hasil dan proses fermentasi pakan dalam rumen (Arora,
1989)
3.2
Kritik dan Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai
materi mineral yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan
makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi
penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
Daftar Pustaka
Anggorodi, 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Annekov, B. N. 1974. Mineral Feeding of Sheep in Mineral
Nutrition of Animal Studies in the Agric. and Food Sci. Butterworths, London -
Toronto. p. 321-354.
Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Cetakan
Kedua. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Church, D. C. and W. G. Pond. 1982. Basic Animal Nutrition and
Feeding. 2nd ed. John Wiley and Son. New York - Singapore.
Gartenberg, P.K., L.R. McDowell, D. Rodriguez, N. Wilkiinson, J.H. Conrad, and F.G. Martin. 1990. Evaluation of trace mineral status of ruminants in northeast Mexico. Livestock Res. For Rural Development 3(2): 1-6.
Hougland, J.L., A.V. Kravchuk, D. Herschlag, and J.A. Piccirilli. 2005. Functional identification of catalytic metal ion binding sites within RNA. PLOS Biol. 3(9): 277.
Lieberman, S and N. Bruning. 1990. The Real Vitamin and Mineral Book. A Very Publishing Group Inc. Garden City Park, New York.
Linder, M. C. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Karbohidrat (Terjemahan). Linder (ed) Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Universitas Indonesia Press.
Lioyd, L. E., B. E. McDonald, and E. W. Crampton. 1978. Fundamentals of Nutrition 2nd Ed. W. H. Freeman & Co. San Fransisco.
Gartenberg, P.K., L.R. McDowell, D. Rodriguez, N. Wilkiinson, J.H. Conrad, and F.G. Martin. 1990. Evaluation of trace mineral status of ruminants in northeast Mexico. Livestock Res. For Rural Development 3(2): 1-6.
Hougland, J.L., A.V. Kravchuk, D. Herschlag, and J.A. Piccirilli. 2005. Functional identification of catalytic metal ion binding sites within RNA. PLOS Biol. 3(9): 277.
Lieberman, S and N. Bruning. 1990. The Real Vitamin and Mineral Book. A Very Publishing Group Inc. Garden City Park, New York.
Linder, M. C. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Karbohidrat (Terjemahan). Linder (ed) Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Universitas Indonesia Press.
Lioyd, L. E., B. E. McDonald, and E. W. Crampton. 1978. Fundamentals of Nutrition 2nd Ed. W. H. Freeman & Co. San Fransisco.
Nugroho, C.P. 2008. Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 1 untuk
SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan
Nasional.
Rojas, M. A., I. A. Dyer and W. A. Cassatt. 1965. Manganese
deficiency in bovine. J.Anim. Sci. 24:664-667
Tidak ada komentar:
Posting Komentar